Links


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Minggu, 27 Desember 2009

sejarah banten



Menengok Sisa Kejayaan Kasultanan Banten

MELIHAT reruntuhan bangunan di dalam Keraton Surosowan, siapa nyana jika istana itu dibangun pada tahun 1526, ketika Sultan Maulana Hasanudin, sultan kedua dalam silsilah Kasultanan Banten, memerintah. Bangunan yang nyaris rata dengan tanah itu masih sangat kuat, meski telah ditumbuhi lumut. Kolam pemandian "khusus putri" Roro Denok di tengah keraton bahkan masih utuh. Siang itu, beberapa anak tampak asyik sekali mandi di air kolam yang kotor.

KASULTANAN Banten yang mulai berkembang pada abad 16 hingga akhirnya runtuh pada pertengahan abad 19 tak ayal menyisakan banyak kenangan. Sisa-sisa kejayaan dan kemegahan istananya masih dapat kita saksikan hingga saat ini, meski hanya berupa bangunan-bangunan tidak utuh setelah dihancurkan pemerintah Hindia-Belanda.

Keraton Kaibon, misalnya. Meski saat ini dikelilingi permukiman penduduk yang makin padat saja, istana seluas dua hektar itu tetap terjaga sebagai cagar budaya. Keraton di RT 05 RW 02 Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang juga masih dikelilingi kanal dan Kali Banten seperti saat pertama kali dibangun pada awal abad 19. Hanya saja, kanal yang menyodet Kali Banten itu sekarang terlihat kotor dan kurang terawat. Begitu pula dengan Kali Banten yang di bantarannya telah bertebaran gubuk-gubuk liar.



"Kalau dulu, katanya airnya sangat bening dan alirannya tidak mampet seperti ini. Kali Banten ini hanya 500 meter dari laut dan panjangnya sampai daerah Pandeglang," kata Mulangkara (34), penjaga Keraton Kaibon, saat menerima peserta Wisata Sejarah yang diselenggarakan Pusat Kajian Sejarah Budaya (PKSB) Universitas Indonesia pimpinan Kartum Setiawan, Sabtu (19/6).

Selain Keraton Kaibon, Banten Lama juga masih menyisakan Benteng Speelwijk, Klenteng Kwan Im Hud Cow, Keraton Surosowan, dan Masjid Agung Banten.
Nama Keraton Kaibon yang dibangun pada tahun 1815 ini diambil dari kata keibuan. Pada waktu itu, sultan ke 21 yaitu Sultan Syafiuddin masih sangat belia sehingga pemerintahan dijalankan oleh ibundanya, Ratu Aisyah.

Pada tahun 1832, keraton dihancurkan oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama-sama dengan keraton lainnya, termasuk Keraton Surosowan. Asal muasal penghancuran keraton, menurut pemandu wisata dari Museum Purbakala Banten Obay Sobari, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daen Dels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan).

Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon.

Meski demikian, ada banyak bagian bangunan yang masih berdiri tegak hingga sekarang, yaitu pintu-pintu dan deretan candi Bentar khas banten atau disebut gerbang bersayap. Masih dapat dilihat pula Pintu Paduraksa, pintu khas Bugis yang sisi kanan dan kirinya tersambung, tidak seperti kebanyakan pintu keraton yang bagian atasnya tidak tersambung.

Ruangan yang diduga kamar Ratu Aisyah juga masih tersisa seperempat bagian. Kamar ini khas karena bagian lantainya dibuat lebih menjorok ke bawah (tanah) untuk diisi air sebagai pendingin ruangan. Di atasnya, baru lah dipasang papan yang berfungsi sebagai lantai. Saat ini, masih terlihat adanya lubang-lubang penyangga papan.

SUASANA serupa terasa di Keraton Surosowan, keraton seluas 3,8 hektar yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Banten di Kampung Banten, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang.

Pancuran mas adalah satu bagian di dalam keraton yang menarik perhatian. Pancuran yang sebenarnya terbuat dari tembaga dan bukan emas itu dahulu biasa digunakan untuk mandi para pejabat dan juga abdi kerajaan. Begitu kondangnya nama Pancuran Mas sehingga orang-orang yakin bahwa pancuran itu memang terbuat dari emas. "Setelah Kasultanan Banten runtuh, tak tahunya ada penjarahan. Pancuran diambil semua, mungkin dikira emas," ujar Obay.
Kolam Roro Denok adalah bagian lain yang juga masih terjaga. Di tengah kolam, terdapat tempat istirahat bernama Bale Kambang. Menurut Obay, air untuk mengairi kolam diambil dari Tasik Ardi, semacam danau buatan yang terletak tiga kilometer dari keraton. Air di danau disodet antara lain dari Kali Kronjen dan Pelamunan.

Keraton Surosowan telah tiga kali dibangun akibat hancur karena perang. Terakhir, keraton dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808.

Banten Lama atau Surosowan adalah situs yang berkelanjutan. Di sana ada peradaban prasejarah dan berlanjut ke zaman klasik (Hindu-Budha), lalu beralih ke kebudayaan Islam pada abad ke-16.

Menurut Obay, sebagian sultan yang memerintah di Banten Lama dikuburkan di pemakaman dekat dengan Masjid Agung Banten yang didirikan Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid yang telah delapan kali dipugar antara tahun 1923-1987 ini sampai sekarang terus dibanjiri peziarah dari berbagai pelosok Indonesia.
"Ada yang sekadar ingin tahu makam para sultan, tetapi banyak juga yang berziarah untuk meminta keselamatan," kata beberapa pedagang cindera mata yang berjualan di sepanjang jalan menuju masjid. Bahkan, ada pula orang yang "menjual" air sumur yang ada di dalam lingkungan masjid dengan harga seikhlasnya.

Masjid bertambah lengkap dengan adanya menara di depan masjid yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Haji pada tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda, Hendrik Lucazoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel memang membelot ke pihak Banten, dan kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

BEREKREASI ke peninggalan Kasultanan Banten barangkali bisa menjadi alternatif mengisi liburan, sangat mengasyikkan dan jauh dari kesan "mengernyitkan dahi'.

Wisata sejarah belakangan marak digelar oleh berbagai kelompok atau lembaga, baik professional atau "kelas" mahasiswa. Salah satu kelompok adalah PKSB. Masih ada lembaga lain seperti Sahabat Museum, lalu Museum Sejarah miliknya Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprov DKI, Studi Klub Sejarah Universitas Indonesia, dan lainnya.

Yuli, Kepala Sekolah SLTP 7 Cilacap, Jawa Tengah, mengaku apresiatif dengan kegiatan seperti ini. Dia sengaja pergi dari Cilacap pada Jumat malam dengan menyewa jasa travel agar bisa mengikuti wisata sejarah ke Banten. M (Susi Ivvaty/IM)




A. Selayang Pandang

Masjid Agung Banten merupakan situs bersejarah di Kota Serang, Propinsi Banten. Masjid ini dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati, sekitar tahun 1552—1570 M. Masjid ini memiliki halaman yang luas dengan taman yang dihiasi bunga-bunga flamboyan. Selain sebagai obyek wisata ziarah, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.

Sejarah pendirian Masjid Agung Banten berawal dari instruksi Sultan Gunung Jati kepada anaknya, Hasanuddin. Konon, Sunan Gunung Jati memerintahkan kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih “suci” sebagai tempat pembangunan Kerajaan Banten. Setelah mendapat perintah ayahnya tersebut, Hasanuddin kemudian shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah untuk mendirikan kerajaan. Konon, setelah berdoa, secara spontan air laut yang berada di sekitarnya tersibak dan menjadi daratan. Di lokasi itulah kemudian Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta sarana pendukung lainnya, seperti masjid, alun-alun, dan pasar. Perpaduan empat hal: istana, masjid, alun-alun, dan pasar merupakan ciri tradisi kerajaan islam di masa lalu.

B. Keistimewaan

Keunikan arsitektur Masjid Agung Banten terlihat pada rancangan atap masjid yang beratap susun lima, yang mirip dengan pagoda Cina. Masjid yang dibangun pada awal masuknya Islam ke Pulau Jawa ini desainnya dirancang dan dikerjakan oleh Raden Sepat. Ia adalah seorang ahli perancang bangunan dari Majapahit yang sudah berpengalaman menangani pembangunan masjid, seperti Demak dan Cirebon. Pengembangan Masjid Agung Banten juga melibatkan seorang arsitek dari Cina yang bernama Tjek Ban Tjut terutama pada bagian tangga masjid. Karena jasanya itulah Tjek Ban Tjut kemudian diberi gelar Pangeran Adiguna.

Kemudian pada tahun 1620 M, semasa kekuasaan Sultan Haji, datanglah Hendrik Lucaz Cardeel ke Banten, ia seorang perancang bangunan dari Belanda yang melarikan diri dari Batavia dan berniat masuk Islam. Kepada sultan ia menyatakan kesiapannya untuk turut serta membangun kelengkapan Masjid Agung Banten, yaitu menara masjid serta bangunan tiyamah yang berfungsi untuk tempat musyawarah dan kajian-kajian keagamaan. Hal ini dilakukan sebagai wujud keseriusannya untuk masuk Islam. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna.

Menara masjid terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, dengan diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, pengunjung harus melewati 83 buah anak tangga dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Menara ini dibangun oleh Hendrik Lucaz Cardeel. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km. Pada zaman dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, bangunan ini juga berfungsi sebagai menara pandang ke lepas pantai. Menara ini juga digunakan oleh masyarakat Banten untuk menyimpan senjata pada masa pendudukan Belanda.

Sementara di sebelah selatan masjid, terdapat bangunan yang disebut tiyamah, bangunan ini juga merupakan karya Cardeel. Selain itu, pada bagian depan masjid terdapat alat pengukur waktu shalat yang berbentuk lingkaran, dengan bagian atas berbentuk seperti kubah. Pada bagian atas kubahnya ditancapkan kawat berbentuk lidi. Melalui bayangan dari kawat itulah dapat diketahui kapan waktu shalat tiba.

Keunikan lainnya nampak pada umpak dari batu andesit yang berbentuk labu dengan ukuran besar. Umpak batu ini terdapat di setiap dasar tiang masjid, pendopo, dan kolam untuk wudhu. Umpak besar seperti ini tidak terdapat di masjid-masjid lain di Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan masjid Kesultanan Mataram di daerah Plered, Bantul, Yogyakarta. Begitu pula dengan bentuk mimbar yang besar dan antik, tempat imam yang berbentuk kecil, sempit, dan sederhana juga menunjukkan kekhasan masjid ini.

Di serambi kiri masjid ini terdapat makam Sultan Maulana Hasanuddin dengan permaisurinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Kahhar (Sultan Haji). Sementara di serambi kanan, terdapat makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, Sultan Abdul Fattah, Pangeran Aria, Sultan Mukhyi, Sultan Abdul Mufakhir, Sultan Zainul Arifin, Sultan Zainul Asikin, Sultan Syarifuddin, Ratu Salamah, Ratu latifah, dan Ratu Masmudah.

C. Lokasi

Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Propinsi Banten, Indonesia.

D. Akses

Masjid Agung Banten berada sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Pengunjung dapat menuju lokasi dengan kendaraan pribadi atau naik bus. Dari Terminal Pakupatan, Serang, Pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan bus jurusan Banten Lama dengan tarif Rp 4.000 atau dapat juga mencarter angkot dengan biaya sekitar Rp 40.000 (Juni 2008). Perjalanan dari Terminal Pakupatan, Serang, menuju ke lokasi masjid memerlukan waktu sekitar setengah jam.

E. Harga Tiket

Memasuki kawasan obyek wisata Masjid Agung Banten tidak dipungut biaya. Namun, apabila memasuki tempat-tempat seperti menara, tempat wudhu, dan kompleks makam sultan, pengunjung diwajibkan membayar rata-rata Rp 1.000 (Juni 2008).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar masjid ini terdapat penginapan, warung telekomunikasi, dan warung yang menjual aneka jajanan. Selain itu, banyak kios yang menjual perlengkapan sholat, tasbih, kaset rohani, VCD musik, pakaian dewasa dan anak-anak, serta cenderamata suku asli Banten, yaitu suku Baduy.
__________________

0 komentar: